Pernah mengenal seseorang yang amat sangat mencintai dirinya? Yang hari-harinya terasa kurang bermakna tanpa sekali saja membicarakan hal-hal tentangnya. Bahkan ketika tampaknya dia tekun mendengarkan ceritamu, sebenarnyalah dia sedang sibuk bermain-main dengan pikirannya sendiri, mencoba menghubung-hubungkan apa yang didengarnya dengan pengalaman pribadinya. Hampir dapat dipastikan, setelah itu dia pasti akan menyambungnya dengan sesuatu tentang dirinya. Bisa positif, kadang juga negatif, tapi yang pasti superlatif – lebih dramatis dari ceritamu. Kalau beruntung, kita mendapat cerita baru, tapi kalau tidak, siap-siaplah mendengar cerita yang sudah kesekian kalinya mampir di telingamu.
Thursday, October 28, 2010
Not Every Time Everything is About You, Darling
Wednesday, October 27, 2010
Ada Apa di Belakang Kasihmu?
“Des, tolong nanti kalau kamu kasih sumbangan dari kantor kita ke RS itu, jangan lupa difoto ya. Untuk dokumentasi kantor,” itu pesan boss saya ketika saya mau berangkat menyerahkan dana bantuan banjir besar yang melanda Jakarta th 2002 yang lalu. Saya bingung, kenapa harus difoto segala? Kalaupun takut dananya tidak sampai, toh nanti ada tanda terima resmi dari si penerima.
Ternyata masalahnya bukanlah tidak percaya. Manajemen kantor saya hanya mau punya dokumentasi telah memberikan sumbangan sekian puluh juta rupiah plus satu mobil box penuh dengan obat-obatan, selimut, pakaian dan makanan.
Pemberian sumbangan itu kemudian diklaim sebagai wujud kepedulian. Lebih jauh lagi, tanda kasih.
Ternyata masalahnya bukanlah tidak percaya. Manajemen kantor saya hanya mau punya dokumentasi telah memberikan sumbangan sekian puluh juta rupiah plus satu mobil box penuh dengan obat-obatan, selimut, pakaian dan makanan.
Pemberian sumbangan itu kemudian diklaim sebagai wujud kepedulian. Lebih jauh lagi, tanda kasih.
Monday, October 25, 2010
Siapa Juaranya? Coba tanya Malaikat ...
Sudah baca buku dan dengar lagu-lagu barunya Dewi ‘Dee’ Lestari, Recto Verso? Saya menyukai dan menikmati kesebelas cerita dan lagu-lagunya. Namun ada satu yang jadi kesukaan saya, judulnya Malaikat Juga Tahu.
Ceritanya tentang cinta seorang Ibu yang demikian besar kepada anak lelakinya yang autis. Tidak mudah berkomunikasi secara wajar dengan lelaki 38 tahun bermental anak 4tahun itu. Apalagi mengobrolkan makna. Butuh kesabaran tinggi yang berbanding terbalik dengan ekspektasi.
Ceritanya tentang cinta seorang Ibu yang demikian besar kepada anak lelakinya yang autis. Tidak mudah berkomunikasi secara wajar dengan lelaki 38 tahun bermental anak 4tahun itu. Apalagi mengobrolkan makna. Butuh kesabaran tinggi yang berbanding terbalik dengan ekspektasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)